DAPET APA SIH, IKUT KARANG TARUNA?

Sharing is caring!

Stigma minor yang sering dilayangkan Orangtua saat dimintai izin agar putra-putrinya ikut aktif menjadi anggota Karang Taruna maupun kegiatan kepemudaan serupa masih sangast kental dirasakan. Dalam setiap regenerasi, agenda pencarian kader di mana organisasi melalui Seksi Humas yang aktif mencari kader calon penerus selalu diwarnai dengan pertanyaan yang sama.

Lalu bagaimana bisa Orangtua di seluruh wilayah desa memiliki pola pikir serupa seperti itu?

Pertanyaan pendek namun luas itu didasari oleh hal yang berragam. Namun secara subjektif sumber permasalahan itu berasal dari kedua belah pihak.

Dari segi Orangtua, pemahaman makna kehidupan sosial memang berkurang karena banyaknya hal yang mereka pikirkan dalam menjalani kehidupan dan upaya memenuhi kebutuhan pokok yang memang menjadi kewajiban mereka sebagai Orangtua. Sedangkan dari tubuh organisasi sendiri, penyampaian pengertian tentang makna dalam pembelajaran kehidupan bersosial melalui Karang Taruna masih kurang. Keduanya menjelma menjadi satu paket pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini.

Sebenarnya secara teoritis hal itu dapat diatasi sepanjang gambaran teori ini sedikit banyak dimasukkan ke dalam hati dan pikiran sebagai pertimbangan dan bahan berfikir sembari menikmati kopi di sore hari.

Pertama, Orangtua hendaknya berkenan memahami bakat dan minat putra-putrinya secara lebih mendalam dan jangan merasa cukup dengan membiayai serta memasrahkan pendidikan anaknya ke sekolah-sekolah reguler. Kecakapan intelektual dan kecakapan komunikasi merupakan satu paket yang harus berjalan beriringan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa amalan yang tidak akan putus setelah kita meninggalkan dunia ini adalah ilmu yang bermanfaat. Akan sangat disayangkan jika kecakapan ilmu yang dimiliki sang anak hanya mengendap dan disimpan untuk dirinya sendiri. Lalu apa yang dapat dibanggakan dari itu?

Kemudian amal dan pahala akankah secara eksplisit hanya didapat dari ibadah ritual keagamaan? Kita dituntut untuk menjaga persaudaraan, dan karena itulah kita diciptakan berbeda-beda Ras, Suku dan Agama.

Kita juga harus menjunjung “Habluminannas”, bergaul dengan baik dalam masyarakat dan akan lebih baik lagi jika kemudian kita bisa memberi manfaat melalui pemikiran, perkataan dan perbuatan atau minimal salah satu dari ketiganya. Itu jauh lebih baik daripada kita memilih untuk menghindari pergaulan dengan alasan menghindari dosa yang mungkin timbul dari tiga hal tersebut.

“Anak saya ga punya keahlian apa-apa mas”

Tidak pernah ada batasan waktu dan tempat untuk belajar, setiap nafas adalah pelajaran dan mungkin nantinya di Karang Tarunalah pembelajaran tentang apa yang mungkin anak butuhkan akan didapat.

Jangan pernah kita mengerdilkan pemikiran kita sendiri dengan anggapan ketidakmampuan diri dalam hal apapun sebelum kita benar-benar mencobanya. Jangan pula kita mengerdilkan sosok diri kita sendiri dengan keseragaman dan kesepahaman, apalagi hanya mengedepankan sisi primitif kita sebagai salah satu spesies makhluk hidup yang hanya berorientasi pada kebutuhan naluriah (denotasi secara halus dalam kehidupan adalah mendewakan pekerjaan hingga mengesampingkan apapun yang dianggap tidak berkaitan dengan itu, dan bagi anak muda hanya memikirkan hubungan asmara sepanjang waktu hingga diri kita tergambar bagaikan sosok pujangga cinta setiap detik ).

Saya tidak mengatakan bahwa itu merupakan sebuah kesalahan, tetapi mungkinkah kiranya kita berkenan untuk berusaha memahami  bahwa hidup jauh lebih berwarna dari itu dan menempatkan diri sebagai makhluk individu dan sosial secara seimbang dan proporsional sesuai kemampuan.

Tidak ada ‘siapa mengajari siapa’ dalam tulisan ini, namun kiranya inti dari pembahasan ini merupakan PR besar bagi kita semua terutama bagi yang memilih untuk menjadi penggiat sosial.

Lalu untuk apa kami menggiatkan kegiatan Karang Taruna semacam ini?

Yang pasti tidak ada keuntungan material secara langsung dan  memang hanya ini yang bisa kami lakukan untuk berbakti pada Ibu Pertiwi, di mana lingkup Negara terkecil adalah Desa, Desa Grenggeng yang kita cintai ini…. (Jgraph)

Joe

Mind Adventure

Satu tanggapan untuk “DAPET APA SIH, IKUT KARANG TARUNA?

  • Januari 3, 2018 pada 11:03 am
    Permalink

    melalui tulisan ini, saya jauh lebih mengetahui apa yang bsa kita dptkan melalui organisasi karang taruna…
    thanks

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *